Hujan yang menghantarnya datang, dan hujan pula yang membawanya pergi. Awalnya, hujan tak memberiku makna apapun sebelum hujan menari bak penari ronggeng yang menarik "dia" ke dalam hidupku. Kami tak pernah sibuk berjanji untuk bersama saat hujan, namun ntah mengapa hujan selalu ada saat kita bersama saat itu. Kita berpeluk di saat hujan deras menari dengan indahnya. Hangatnya pelukan mulai terasa, menusuk hangat, sangat hangat. Namun, ketika pelukanku ku eratkan, hujan menariknya kuat-kuat melepaskan pelukannya untukku, ironis.
Aku menangis, hingga gila, aku menangis hingga butiran air mata tak sanggup lagi menetes. Aku diam, dan ketika hujan kembali datang, aku berteriak, hingga aku lelah menyebut namanya dalam derasnya hujan. Hujan benar-benar membawanya pergi , jauh, sangat jauh, bahkan hingga senyum ku pun tak sanggup lagi menjangkau langkahnya.
Bagaimana aku merindukan pertemuan sedangkan dia tak ingin adanya pertemuan ?, sungguh melihatnya, bahkan melihat punggungnya saja sudah membuatku salah tingkah, membuatku senyum seharian. Aku yang tolol, yang tak pernah memulai pembicaraan saat melihatnya, bahkan malah diam membisu saat mata kita bertatap penuh harap.
Sungguh aku merindunya, rindu bagaimana dia menatapku tajam, rindu bagaimana dia bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya, rindu bagaimana dia mencium keningku penuh kasih, rindu bagaimana dia mengecup bibirku pelan, rindu bagaimana dia memanggilku "sayang" (hal yang sangat jarang dia lakukan), rindu bagaimana dia mencolek daguku saat dia mulai menggodaku, rindu senyumnya yang paling manis saat dia berhasil mengejekku,, aku rindu. meskipun rindu itu hanya aku yang merasa. Meskipun ketika rindu aku hanya mampu menggenggam erat sebuah kalung yang melingkar indah di leherku. Aku butuh hujan, aku ingin hujan, hujan yang deras, hingga dia tau bagaimana derasnya rinduku, bagaimana aku ingin segera sanggup menari dalam hujan, silahkan kalian berkata aku gila, karena....


